Minggu, 25 Desember 2016

Sorban dan Kompleksitas Mode Pakaian

Sorban dan Kompleksitas Mode Pakaian
Mode atau fashion adalah bentuk nomina yang bermakna ragam cara atau bentuk terbaru pada waktu tertentu. Mode yang digunakan seseorang mampu mencerminkan siapa pengguna tersebut. Fashion style cenderung berbeda antara tempat yang satu dengan yang lain karena kebutuhan dan peran yang berbeda.
Busana yang dipakai oleh seseorang dapat memberikan dampak psikologis bagi pemakai atau yang melihatnya. Seperti misalnya ke pesta dengan menggunakan pakaian sehari-hari, akan membuat pengguna merasa rikuh dan kurang nyaman, sebaliknya akan merasa lebih percaya diri dengan memakai pakaian istimewa. Anak muda sengaja merobek jeansnya untuk mengukuhkan bahwa dirinya adalah orang yang funky. Contoh yang lain adalah sorban, di Indonesia banyak orang yang memakai sorban agar memberikan kesan kesalehan dan ketekunan beragama[1].
Berbeda dengan penggunaan jeans robek yang sekedar untuk gaya-gayaan, sorban[2] merupakan pakaian yang juga pernah dipakai oleh nabi Muhammad dalam beberapa keadaan. Ada beberapa hadis nabi yang menerangkan bahwa nabi Muhammad saw. memakai sorban ketika fath al-Makkah, ketika mau berwudhu beliau merapikan sorbannya, ketika nabi di mimbar beliau memakai sorban.[3]
Segala hal dan perilaku telah diatur dalam Islam melalui al-Qur’an dan sunnah melalui perantara nabi Muhammad yang dijadikan modeling dalam berbagai aspek, tak terkecuali dalam hal pakaian.
Dengan adanya beberapa hadis mengenai sorban tersebut, wajar bahwa beberapa muslim menganggap hal tersebut sebagai identitas dan ciri agama serta patut untuk dilestarikan dan diaplikasikan. Hal ini tidak hanya berlaku dimasa sekarang, bahkan pada masa sahabat nabipun hal itu dilakukan oleh sahabat dengan melakukan verifikasi pada sahabat yang lain.[4] Demikian juga Identitas agama juga ditunjukkan oleh pemeluk agama-agama lain,  Sikh mengidentikkan pemeluknya dengan identitas sorban, Yahudi Ortodoks dengan mengenakan kopiah.
Struktur sosial historis tertentu melahirkan identitas yang melahirkan beberapa tipe identitas yang bisa dikenali, seperti mode pakaian asli bangsa melayu, mode pakaian kebudayaan arab pra Islam, mode pakaian pada masa Islam dan lainnya.
“Dikutip dari Roland Barthes, apabila kita melihat busana sebagai fenomena kultural, maka busanapun tidak lain dan tidak bukan adalah suatu praktek pemaknaan yang berlangsung didalam kehidupan sehari-hari, yang turut membentuk suatu kebudayaan sebagai suatu sistem pemaknaan general. Oleh karena itu, busana merupakan salah satu wadah bagi manusia untuk mengkomunikasikan, mengalami, mengeksplorasi dan memproduksi tatanan sosial.” [5]
Bernard mengatakan bahwa fashion merupakan gaya busana, simbol kelas dan status sosial pemakai serta kaitannya dengan sosial budaya ataupun simbol agama tertentu karena seseorang cenderung memberikan penilaian berdasarkan apa yang dipakai oleh orang lain.[6] Dengan kata lain, fashion bisa dimetaforakan sebagai ‘kulit sosial dan budaya’
Pada awalnya, pakaian hanya sekedar untuk bisa menutupi tubuh, diawali dengan pakaian-pakaian sederhana.[7] Dan seiring dengan perkembangan peradaban manusia, pakaian semakin baik dan selanjutnya, dalam lintasan sejarah terjadi perkembangan mode pakaian dan aksesori yang dipakai oleh manusia sehingga mengalami perbedaan gaya, warna dan fungsi dari pakaian itu sendiri. Telah terjadi pemisahan antara gaya pakaian laki-laki dan perempuan, status sosial dan agama, termasuk di dalamnya agama Islam.
Mode pakaian tidak hanya dimasa sekarang, pada masa nabipun telah ada perkembangan mode pakaian dan aksesori seperti sutera, hibarah[8], tato, semir rambut, pakaian berwarna, wig dan pakaian terawang telah ada pada masa nabi.[9]
Pakaian adalah produk budaya dan juga merupakan tuntunan agama dan moral. Dari sinilah lahir apa yang dinamakan pakaian tradisional, daerah, nasional, pakaian tertentu untuk perayaan, profesi tertentu serta pakaian untuk beribadah, seperti ketika melaksanakan ibadah haji dan umrah ada pakaian-pakaian khusus buat pria, yakni yang tidak berjahit dan wanita tidak diperkenankan menutup wajahnya. Namun sebagian tuntunan agamapun terlahir dari  budaya masyarakat. [10]
Kompleksitas permasalahan seputar sorban telah terekam dalam sejarah dengan nilai dan dan tatanan tertentu. Bagi orang punjabi, sorban adalah segala-galanya, sorban mewakili status sosial, nama keluarga, integritas diri seseorang, kejujuran dan akhlaknya.[11] Di Turki pada zaman pemerintahan Ataturk melarang segala hal yang berbau agama seperti dilarang memakai kerudung, jenggot dan sorban.
Tak jauh beda dengan Turki zaman Ataturk, Iran saat pemerintahan dipimpin oleh Reza Pahlevi pada 1925 meluncurkan reformasi yang sama seperti Ataturk, khususnya dalam hal pakaian. Jilbab, kerudung, sorban, janggut semuanya dilarang bagi warga negara biasa, ulama yang berlesensi dan benar-benar diakui sebagai ulama lah yang bisa memakai sorban. Dan apabila ada yang tertangkap memakai sorban tanpa lisensi dapat dipukul di jalan dan dibawa ke penjara.[12]
Bahkan, pada tahun 1972 ketika Inggris mewajibkan pengendara sepeda motor memakai helm, kaum Agama Sikh yang berdomisili di Inggris terus melanggar dan melakukan kampanye karena diberlakukan aturan tersebut. Juru bicara dari Sikh mengungkapkan alasan pemberontakan tersebut, bahwa sorban mereka sama amannya dengan helm. Akhirnya pemberontakan kaum Sikh membuahkan hasil, pada tahun 1976 mereka dibebaskan dari kewajiban memakai helm ketika berkendara karena sorban kaum Sikh sudah dianggap memenuhi standar keamanan ketika berkendara motor. Bahkan sekalipun ada diantara kaum Sikh yang menjadi polisi ataupun tentara tetap diperkenankan memakai sorban[13] di Kanada terjadi pertikaian sengit untuk legalisasi pemakain sorban oleh kaum Sikh.
Tak terkecuali dengan Indonesia, seiring dengan pesatnya perkembangan mode pakaian ini, tak pelak juga perkembangan di bidang yang lain seperti halnya muncul gerakan pemurnian agama dan kemajuan pembaharuan ditengah-tengah maraknya modernisasi dan proses reislamisasi atas kaum muslim. Hal tersebut dilakukan dengan melakukan dua tahapan; pertama menggagas ijtihad untuk menjawab persoalan ummat, tahap kedua menggagas peminjaman (borrowing) peradaban barat yang dianggap mendapat legalisasi dari ajaran agama secara mendasar, dalam peminjaman peradaban barat inilah ditemukan tiga visi misi yang berbeda antara ummat Islam, dan salah satu visinya adalah visi tradisionalis, berkeyakinan bahwa Islam tidak perlu meminjam peradaban barat cukup dengan berdasarkan ortodoksi Islam sendiri, sebab al-Qur’an telah mencakup hal yang dibutuhkan[14]. Hal yang dilakukan oleh para penggiat visi tradisionalis ini salah satunya dilakukan dengan memunculkan simbol keagamaan untuk memberikan identitas warga agama.  
Dari ulasan mengenai sorban ini, ada ulama yang mengatakan bahwa sorban hanya merupakan tradisi arab saja, tidak termasuk kesunnahan karena dari hadis-hadis yang dijadikan fadhilah memakai sorbanpun semuanya dhoif, dan nabi memakai sorban hal tersebut karena mengikuti kebiasaan yang ada (sunnah ‘adah bukan sunnah ibadah)[15]
Disisi lain, Habib Mundzir al-Musawa, pimpinan organisasi Majelis Rasulullah mengatakan bahwa sorban merupakan kesunnahan yang dicontohkan oleh nabi saw. bukan suatu hal yang paling utama untuk melihat keutamaan yang ada dalam penggunaan sorban karena nabi memakainya dibeberapa keadaan, itu sudah jelas akan menjadi sunnah, tidak hanya itu, Habib Mundzir menambahkan bahwa dibeberapa tempat seperti di Tarim, Yaman, sebagai syarat bolehnya memakai sorban adalah dengan menyelesaikan kitab Bidayatul Hidayah[16], ini sebagai bentuk motivasi dan pengagungan terhadap pemakai sorban[17]. Kesunnahan dalam pemakaian sorban ini juga diamini oleh Habib Luthfi[18], beliau mengatakan bahwa sorban adalah sebuah kesunnahan. Namun dari segi model sorban yang beliau gunakan berbeda dengan model sorban yang digunakan oleh Habib Mundzir al-Musawa.
Tidak hanya itu, dibeberapa wilayah memiliki ciri tersendiri dalam tatacara memakai sorban. Seperti mahkota yang dipakai oleh Sultan Turki Ottoman dengan ukuran sangat besar yang sebenarnya itu adalah kain kafan dengan harapan sang sultan selalu mengingat kematian, sehingga menimbulkan rasa sadar akan tanggung jawab[19].
Pemakaian sorban di Indonesia selain dicontohkan oleh Habib Mundzir, Habib Luthfi dan beberapa ulama lainnya, hal serupa bisa dilihat dari praktek kemasyarakatan yang dilakukan oleh mantan gubernur DKI, Joko Widodo pada 2013 silam yang mengadakan acara Parade 1.000 Bedug ‘Jakarta Religius Night Festival’, dalam acara tersebut Joko Widodo memakai Gamis berwarna putih lengkap dengan sorban kombinasi warna merah dan putih. Dengan adanya acara tersebut untuk menunjukkan bahwa Jakarta adalah kota yang religius.[20]
Dari beberapa kompleksitas permasalahan seputar sorban yang ada dalam lintasan sejarah, tidak bisa dikatakan bahwa sorban hanyalah milik kaum muslim, dan dijadikan identitas muslim belaka oleh sebagaian. Selain itu, dari segi model yang ditawarkanpun berbeda-beda. Hal ini tentunya mempunyai alasan mendasar masing-masing, seperti halnya teori fenomenologi Alfred Schutz yang mengatakan bahwa orang yang ingin melakukan suatu tindakan tentunya berdasarkan pada because of motif dan in order to motif.
Terlepas dari mode fashion sorban ataupun lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Prof Dr. Ali Mustafa Ya’kub bahwa ada empat (4) T prinsip berpakaian, yaitu: pertama, tutup aurat; kedua, tidak ketat; ketiga, tidak transparan; dan keempat, tidak menyerupai lawan jenis[21]
Tutup Aurat, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-A’raf: 22
فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ
 (Yakni serta-merta dan dengan cepat) tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya, aurat masing-masing dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga secara berlapis-lapir.
Tidak Transparan
Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitabnya Shohih Muslim/2128 sebagai berikut,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا»
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah: ”Dua (jenis manusia) dari ahli neraka yang aku belum melihatnya sekarang yaitu; kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, dan sungguh wangi surga itu telah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.
Tidak Ketat
Maraknya pakaian yang banyak digunakan sekarang ini, seperti baju kaos, celana jeans atau bentuk pakaian lainnya, memperlihatkan lekuk tubuh pemakaianya baik laki-laki maupun pakaian perempuan. Bahkan trend hijabers yang sekarang berkembang sering kali mengabaikan hal ini.
Tidak Menyerupai Lawan Jenis
Dalam sebuah Hadis yang terdapat dalam Shohih Bukhari/159, sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Diriwayatkan Ibn ‘Abbas Ra., berkata: “Rasulullah saw melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.
Hadis di atas tidak secara eksplisit menjelaskan bahwa laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya. Secara umum hadis di atas menjelaskan bahwa Nabi saw melarang umatnya untuk menyerupai lawan jenisnya, termasuk dalam dalam hal berpakaian.
Dari penjelasan tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa kompleksnya perkembangan fashion atau mode tidak menjadikan muslim untuk menutup diri dengan perkembangan, namun tentunya tanpa abai terhadap etika berpakaian yang disyaratkan dalam Islam.






[1]Muhammad Quraish Shihab, Jilbab Pakaian Wanita Muslimah (Jakarta: Lentera Hati, 2004), h. 36
[2] Sorban dalam Mu’jam al-Ma’āni al-Jami’ bermakna ‘ apa yang diikat/ menggulung di kepala. Atau dalam Kamus Lisan al-Arab bermakna “al-Imāmah min libās al-ra’si”
[3]Kutub al-Sittah
[4] Dalam sebuah riwayat dari Abu Musa, dari Abu Usman bin Amr, dari Zubair bin Jawan dari seorang laki-laki dari anshar berkata; datang seorang laki-laki kepada ibnu Umar dan bertanya  “wahai Ayah Abdurrahman,  apakah sorban itu sunnah?” Abdurrahman menjawab “ia”  karena sesungguhnya nabi saw. bersabda kepada Abdurrahman bin Auf: “pergilah dan pakailah baju dan senjatamu, kemudian ia mengerjakannya. Kemudian nabi memakai untuk dirinya sendiri, kemudian memakai sorban, maka beliau menguraikan sorban tersebut di samping kedua tangannya. (Abu Muhammad Mahmud, Umdah al-Qori, Kitab Libās, Bab Imā’am, Juz 2 (Bairut: Dar Ihyā’ al-Turāts al-‘arabī, t.t), h. 307)
[5]Dewi Meyraswati. “Fesyen dan Identitas” Makara Seri Sosial dan Humaniora 17 (2), (Surabaya: UNAIR, 2013), 108.
[6]Malcolm Barnand. Fashion as Communication. Terj. Fashion Sebagai Komunikasi (Jogjakarta: Jalasutra, 2011), h.6
[7]Kisah nabi adam dan Hawa dalam al-Qur’an surat al-A’raf: 20 dan 22
[8]Pakaian yang terbuat dari katun)
[9]Imam Muslim, Shahih Muslim, Juz 3, Kitab Libas (Beirut: Dār al-Kutub, 1412 H), h. 1634-1682
[10]Muhammad Quraish Shihab, Jilbab Pakaian Wanita Muslimah (Jakarta: Lentera Hati, 2004), h. 38
[11] Diceritakan dalam buku legenda Suhni Mehar, sebuah petualangan cinta di sekitar wilayar punjab (Anand Krishna, Ishq Ibaadat; Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), h. 12)
[12] Tamim Ansary, Destiny Disrupted: A History of The World Through Islamic Eyes. Terj. Yuliani Liputo. Dari Puncak Baghdad; Sejarah Dunia Versi Islam, (Jakarta: Zaman, 2012), h. 482
[13]Bhikhu Parekh, Rethinking Multiculturalism; Keberagaman Budaya dan Teori Politik, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), h. 322.
[14] Dua visi lainnya yakni sikap liberal, untuk menuju kemajuan ummat Islam harus meminjam kebudayaan barat secara keseluruhan,  visi sintetik, dalam al-Qur’an tidak ada petunjuk yang rinci sehingga diperkenankan meminjam peradaban bangsa lain (Syahrin Harahap, Islam Dinamis; Menegakkan Nilai-Nilai Ajaran Al-Qur’an dalam Kehidupan Modern di Indonesia, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, Cet 1. 1997, h. 180)
[15] Nashiruddin al-Albani. Silsilah al-Ahādits al-Dhaifah Wa al-Maudhuah Wa Atsāruhā al-Sai’ Fi al-Ummah (Riyadh: Dar al-Ma’arif, 1992)

[16]Kitab Bidāyatul Hidayah karya Imam al-Ghazali membahas proses awal seorang hamba mendapat hidayah dari Allah, berisi tentang adab ketaatan, tatacara bergaul dengan sang kahlik, manusia, serta sesama makhluk

[20]Berita Jakarta ‘video’ diunduh dari youtube 3 oktober 2016
[21]http://bincangsyariah.com/nisa/empat-prinsip-berpakaian-dalam-islam/ 

Cerpen

Vita Activa 3 Sahabat
Cerpen by: Cahaya Hikmah

 “Zahra, Tiva, ikut aku yuk”. ajak Ilma “Kemana?” “Itu, aku mau ke stand fotografi, pengen daftar ikut klub Fotografi” saut Ilma. “baiklah, ayo” . dan akhirnya Ilma pun daftar untuk rekrutmen keanggotaan baru fotografi.
Zahra, Ilma bersekolah di Sekolah Mumtaz Ilmu yang tidak jauh dari ibu kota Faina, ibu kota dimana dia tinggal. Memang terdapat banyak kegiatan ekstra yang dibentuk menjadi organisasi dan klub untuk meningkatkan kreatifitas dan menjaring kemampuan para siswa.
Pagi yang indah Sekolah Mumtaz Ilmu dengan keindahan alam yang masih terjaga di tengah hiruk-pikuk kota yang entah bagaimana akan terdeskripsi, sehingga sekolah ini mampu membuat siapa yang di dalamnya nyaman dan tenang untuk menata hati, mulai berekspresi serta menuai prestasi para siswa. Dan sekolah ini bisa juga dibilang elit, karena memang termasuk sekolah favorit di kota Faina. Kelas dimana Zahra dan Ilma belajar pun berjalan dengan kondusif, jam dua keluar kelas dan dilanjutkan kegiatan ekstra yang diadakan sekolah bagi peminat masing-masing kegiatan.Zahra menekuni fotografi, klub yang ia masuki bebrapa hari lalu.
***
Belajar seperti biasanya, dan mengikuti pelajaran dengan tenang, tanpa kebisingan dan ganggupan itulah keseharian yang dilakukan sekolah ini, dan siswapun mengikuti pelajaran dengan enjoy. Tapi berbeda Tiva, sejak kejadian pagi tadi ketika dia berangkat ke sekolah dengan menemukan suatu hal yang mungkin sangat asing dan tak pernah ada dalam benak Tiva. Dihari selanjutnya Tiva berangkat ke sekolah Mumtaz Ilmu lebih pagi lagi dan benar kejadian itu terulang lagi, dan diam-diam Tiva tidak bisa memalingkan perhatiannya akan hal tersebut dan bertindak cuek, Tidak.
>>> Istirahat sekolah
Tiva mencoba untuk memberanikan dirinya menanyakan dan bicara langsung pada nenek tua yang sedang meminta-minta tersebut.
“nak, minta nak, nenek laper nak” terdengar lirih suara nenek tersebut meminta dan memelas pada siapapun tanpa memandang entah anak-anak, remaja ataupun dewasa. “ini nek” Tiva memberikan uang seribuannya satu. “nek, kenalin nama saya Tiva, yang sekolah di seberang sana, Sekolah Mumtaz Abadi” “ia, terimakasih nak, semoga diberi ilmu yang banyak ya, dan pinter” “amin, makasih nek”. Sengaja Tiva menghampiri nenek pengemis tersebut dengan maksud sepulang sekolah nanti bisa berkomunikasi sama sang nenek dengan lebih enak, seperti apa yang telah ada dan terencana dalam benak Tiva.
Dan benar sekali, sesuai dengan dugaan Tiva, nenek tersebut masih ada di seberang sekolah, tempat sedari pagi jadi lahan buat mengemisnya.
>>> rencana sepulang sekolah
“Siang nek, masih ingat dengan saya kan, yang tadi pagi. Maaf nek, boleh Tiva nanya sesuatu ga nek?” –kebetulan waktu itu jalanan sepi karena sudah menjelang sore- “iya, silahkan saja” “kalau boleh tau nenek tinggal dimana nek, dan yang biasanya nganter nenek itu  siapa? Maaf nek, Tiva sempat lihat nenek diantar waktu itu pakai motor” “nenek tinggal di rumah Kotak Kita, tempat dimana kita bersama disana” “ tempat kita bersama? Emang keluarga nenek semua disana?” “bukan, suami nenek meninggal, nenek sebatang kara, nenek tinggal dengan para pengemis yang lain, yang sudah dianggap saudara sendiri, disana kita dibantu dan ketuai oleh orang yang lebih muda, dikasih tumpangan tinggal untuk bisa neduh namun kita harus juga mencari uang” Tiva merasakan nenek sedikit jengkel dan enggan menceritakan lebih dalam masalah kehidupannya dan akhirnya Tiva memutuskan pamit.
Tidak berhenti usaha Tiva untuk mencari tau tentang kehidupan nenek tersebut ataupun para pengemis disekitar hidupnya yang dirasa oleh Tiva tidak masuk dalam nalarnya kenapa mereka yang sehatpun harus mengemis.
Setiap ketemu sama pengemis, Tiva mencoba ramah dan mulanya memberikan uang. Pagi itu Tiva bertemu dengan pengemis cilik yang seusia anak SD. Tiva sok PDKT pada anak tersebut dan memberinya uang “dek, siapa namanya? Kenalin, kakak namanya Tiva” setelah terjadi beberapa percakapan anak tersebut sekolah dan siangnya harus mengemis karena disuruh orang tuanya. Semakin miris hati Tiva mendengar fenomena sekelilingnya tersebut.
***
Haripun berlalu dan ujian semester disekolah SMA Mumtaz Ilmu tinggal dua minggu lagi yang berarti siswa harus lebih serius lagi belajar dan bahkan sekolah memberikan kelas tambahan khusus untuk pelajaran tertentu.
Teori Evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin memang terbantahkan oleh perkembangan pengetahuan dan penelitian setelahnya. Darwin meneliti manusia dengan kera terdapat banyak kesamaan dari segi fisiknya sehingga ia memberikan asumsi demikian diawal penelitiannya. namun kalau boleh bapak sinergikan dengan keilmuan lainnya yaitu manusia dan hewan bedanya manusia diberi akal, kalau akal sehatnya tidak dipakai maka tidak lebihnya sifat manusia seperti binatang. Karena moral, akhlak dan ilmu ketika itu tidak berlaku pada dirinya. Seperti teori dari seorang ilmuan barat, Hannah Arend dengan teorinya Vita Activa (Kehidupan aktif) bahwa aktivitas manusia adalah; kerja- karya- aksi dan melalui karya manusia membedakan diri dari binatang. Oleh karena itu berkaryalah dengan sejuta kemampuan kita dan tindakan nyata dengan hal positif apasaja, bisa prestasi, tulisan, tindakan sosial dan lainnya, agar Hannah Arend tidak memasukkan kita pada unsur hewan, hehe setuju Tiva, Ilma? (canda pak Lutfi, guru Biologi yang memang suka memberikan selingan kata positif dan sekaligus humor dalam mengajarnya). Baiklah dilanjut ya ke pembahasan evolusi ya...
Selesai sekolah Tiva, Ilma dan Zahra keluar kelas bersama sebelum akhirnya mereka berpencar, Tiva sambil memikirkan apa yang di ucapkan Pak Anam, berkarya dan peduli. Yap ‘berlari mengejar mimpi memang penting, namun melihat sekitar dan berbagi itu juga tidak kalah penting’ semangat Tiva? Gumam Tiva dalam hati.
Hari-hari setelahnyapun Tiva mulai care terhadap hal-hal yang terjadi disekitarnya, yakni masih kepikiran seputar pengemis tua, anak-anak dengan berbagai cara mereka mengemis. Sesekali Tiva melihat anak kecil minta-minta namun paginya diantar ibu-ibu yang menunggunya di halte, dan ternyata dapet kabar dari temen yang pernah juga ngobrol sama anak tersebut bahwa orang yang biasa mengantar anak tersebut adalah orang tuanya.
‘Teriris hati ini melihat kejadian itu, tapi apa Tuhan yang bisa ku perbuat untuk mereka’ tulis Tiva dalam Diarinya.
***Sebulan kemudian***
Open Rekrutmen ‘Kita Peduli’.
“Zahra, Ilma, barengin yuk, mau ke stand itu.”  “kenapa Tiv? Mau daftar ya?” tanya Ilma “iya” “oke siap, yuuk” saut Zahra dan Ilma. Mereka sama-sama sibuk dengan kegiatan ekstra masing-masing namun masih bisa berkumpul sekedar makan siang bersama, Zahra dengan klub Englishnya, Ilma Fotografi dan Tiva mau masuk komunitas ‘Kita Peduli’ yang ada di luar sekolah. Tiga sahabat yang semangat menggapai mimpinya dan cita-cita masing-masing namun tidak membuat mereka berjauhan.
Dua minggu setelah orientasi keanggotaan Kita Peduli, Tiva mulai mengikuti alur apa yang ada di komunitas tersebut, dia mulai aktif mengikuti kegiatan sosial, musyawarah, memberikan sumbangan ide dan lainnya.
“Kakak pembina dan temen-temen semua, saya punya usul nih, bagaimana kalau kita nambah kegiatan selain kegiatan eventual tanggap bencana, Sekolah Kita (ngajar anak usia SD) yang tidak bersekolah. Bagaimana kalau kita mainkan peran dengan Perbaikan mental dan mindsetnya para pengemis, karena bisa kita perhatikan bersama, dari Faina ini bukannya jumlah mereka semakin sedikit malah semakin banyak, berarti ada yang salah dan perlu kita pedulikan bersama. Mungkin bisa kita mulai dari orang tua sampai dengan anak-anak dengan penempatan kelas atau grupnya masing-masing” kata Tiva “terus bagaimana caranya?” celetuh Syamlan, temen organisasi Kita Peduli Tiva “mungkin karena memang target utama mereka adalah uang, yang ingin didapat. Akan sedikit sulit mengajak mereka beralih profesi. Sembari kita memberikan motivasi dan arahan lewat visualisasi dan lainnya kita akan langsung mengajak Usaha Cerdas, membuat keterampilan dan mencari pembeli dan juga kerjasama dengan lembaga sosial agar mereka mendapat tunjangan bulanan sembari menyesuaikan diri dengan kehidupan dan kebiasaan baru mereka, mungkin awal-awal tidak langsung setiap hari bertahap mungkin bisa seminggu tiga kali, namun mereka harus tetap dikawal” tambah Pembina Kita Peduli, kak Jamil “dan kita juga bisa membuka volunteer kegiatan ini.” Tambah Tiva –
Kegiatan mulai mereka jalankan, tentu tanpa mengganggu jadwal sekolah bagi yang masih sekolah. Tiva dan teman yang masih dibangku sekolah bergerak di weekend dan setiap pulang sekolah mampir ke tempat binaan dan kebetulan komunitas ini bukan di dalam sekolah, namun komunitas luar sekolah. Sehingga mahasiswa dan umumpun bisa mengikuti dan partisipasi lebih di dalamnya.
***Tiva, Zahra dan Ilma
Jam istirahat tiba.
“Tiv, gimana komunitas kamu? Lancar mengikuti kegiatan disitu?” Ilma membuka obrolan “iya, alhamdulillah, kalau kalian gimana? Oh ya, selamat ya Ilma, kemaren telah mewakili sekolah dan menjuarai kaligrafi di provinsi” saut Tiva “iya terimakasih, Zahra juga tuh, dia udah kayak bule aja sekarang Bahasa Inggrisnya, hehe” tambah Ilma. “pokoknya kita harus tetap semangat dan menseriusi apa yang kita inginkan, agar menjadi manusia yang berkarya, dengan karya berarti kita udah aksi. Itulah manusia seutuhnya. Masih ingatkan kata-kata pak Lutfi waktu itu” saut Zahra penuh semangat.
Menabur perbuatan tuk menuai kebiasaan, menabur kebiasaan tuk menuai karakter karena ia terbentuk melalui perjalanan hidup. Mereka yang peduli, mereka yang berkarya karena melewati jalan tersebut (mereka bertiga terdiam sesat mengingat kata-kata tersebut sembari tersenyum bersama tanda ia siap).

Cinta bukan dengan ungkapan, tapi dengan tindakan, mencintai diri sendiri, alam dan negeri tercinta adalah dengan bukti.  

Rabu, 04 November 2015

Metode Jam'u dalam memahami Hadis


1.      حَدَّثَنَا الْرَّبِيْعُ، قَالَ: قَالَ الْشَّافِعِيُّ: أَخْبَرَنَا بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ: «لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ، وَإِذَا خَرَجْنَ فَلْيَخْرُجْنَ تَفِلَاتٍ» . قَالَ الرَّبِيعُ: يَعْنِي: لَا يَتَطَيَّبْنَ
2.      أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «إِذَا اسْتَأْذَنَتِ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَلَا يَمْنَعْهَا»
3.      قُلْتُ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ»
4.      حَدَّثَنَا الْرَّبِيْعُ، أَخْبَرَنَا الْشَّافِعِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي مَعْبَدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَخْطُبُ يَقُولُ: «لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ، وَلَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ أَنْ تُسَافِرَ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ» [1]

Hadis pertama sekalipun ingin memberikan kebebasan kepada hamba perempuan Allah untuk menjalankan kebaikan, namun perlu digaris bawahi tentang cara pelaksanaannya. Redaksi wa idza kharajna fal yakhrujna tafulât (ketika mereka keluar, hendaknya mereka keluar dengan tanpa berhias yang berlebihan). Tafulat dalam hadis di atas ditafsirkan oleh al-Rabi’ murid al-Syafi’i dengan la yatathayyabna (tidak memakai wewangian). Wewangian di sini dapat dipahami sebagai wewangian yang berlebihan
Hadis yang kedua menerangkan tentang pembolehan izin perempuan yang mau ke masjid. Sedangkan hadis yang ketiga dan ke empat secara dhohir melarang perempuan keluar tanpa disertai mahram dikarenakan jarak yang jauh.
Dalam menyelesaikan hadis yang secara dhohir bertentangan ini Imam Syafi’i mengambil jalan jam’u. Yaitu perempuan boleh ke luar ke masjid dengan tidak tidak memakai wewangian/ hal-hal yang berlebihan. Dan kalau pergi itu jauh maka disertai dengan mahram, hal itu dahulu karena tidak ada kendaraan yang bisa menjangkau dengan cepat sebuah tempat.
Jadi hadis tersebut bisa sama-sama digunakan dengan metode jam’u yaitu dengan syarat tidak boleh terlalu menor/ berlebihan dalam berpakaian dan kalau jauh sebaiknya bersama mahram. Tidak mengharuskan dengan mahram karena hadis itu turun dengan alasan kejauhan sedangkan kendaraan waktu itu tidak manual, memakai hewan bukan mesin yang cepat. Jadi kalau sekiranya dari segi keamanan diperjalanan sudah terjamin maka tidak apa sendirian.



[1]As-Syafi’i Abu Abdillah Muhammad ibn Idris. Ikhtilaf al-Hadis. Bairut: Dar al-Ma’rifat.  1990. 

Perjumpaan Islam Dengan Kepercayaan Lokal

LATAR BELAKANG
Teologi merupakan hak permanen dan kebutuhan setiap individu. Karena keber-agamaan itu tidak akan punah seiiring dengan dunia modern saat ini. Dia juga takkan musnah. Teologi yang merupakan unsur dari agama, sebagaimana disebut prof. Qomaruddin Hidayat dalam judul bukunya. ‘Agama punya seribu nyawa’ karena eksis dan pentingnya dalam setiap diri, personal tentang adanya kekuatan Allah.
            Dan dalam makalah ini kami akan membahas tentang pertemuan Islam dan kepercayaan lokal sampai kepercayaan-kepercayaan sebagai kompromi dan munculnya liberal.
PEMBAHASAN
A.      Perjumpaan Islam Dengan Kepercayaan Lokal
Islam sebagai ajaran yang bersumber kepada al-Quran dan hadis merupakan satu kesatuan ajaran yang utuh diyakini masyarakat pemeluknya sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Tetapi ketika ajaran Islam bersentuhan dengan aneka kepercayaan lokal masyarakat yang berbeda dari satu suku ke suku yang lain, bangsa ke bangsa yag lain. Dari satu negara ke negara yang lain. Maka dari situlah wajah Islam menjadi berbeda-beragam karena adanya adaptasi, asimilasi dan interpretasi yang berbeda oleh masing-masing penganut disesuaikan dengan konteks lokal dan kebutuhan tertentu.[1]
Setiap suku bangsa, selain memiliki kepercayaan lokal masing-masing, juga memiliki sistem pengetahuan dan cara pandang yang berbeda satu dengan yang lainnya. Masuknya unsur baru dalam kehidupan tentu saja mendapat reaksi yang berbeda-beda. Adanya hukum adat yang terbentuk dari tradisi sosial budaya masyarakat setempat merupakan bentuk paling jelas dari institusi lokal yang mengatur tatanan masyarakat. Berdasarkan pengelompokan yang diperkenalkan oleh pelopor studi hukum adat, Van Vollenhoven, terdapat Sembilan belas wilayah hukum adat yang mengisyaratkan agama Islam tersosialisasikan dalam masyarakat yang memiliki ciri adat tertentu. Interaksi antara hukum Islam dan hukum adat yang tinggi telah ada sebelum Islam menjadi perdebatan diberbagai daerah. Daerah yang keterkaitannya dengan adat begitu tinggi dan paling intens menerima proses islamisasi antara lain Aceh, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan. Terutama menyangkut persoalan untuk mempertemukan atau menyelaraskan agama dan adat dalam kehidupan sehari-hari.
Hubungan dialektika agama dan budaya lokal dapat dilihat paling tidak dari beberapa varian, yaitu, (1) pribumisasi, (2) negosiasi,dan (3) Konflik.
Pertama, pribumisasi. Pribumisasi dalam hal ini diartikan sebagai penyesuaian Islam dengan tradisi lokal dimana ia disebarkan. Menurut Abdurrahman Wahid, antara agama (Islam) dan budaya mempunyai independensi masing-masing, tetapi keduanya memiliki wilayah tumpang tindih. Tumpang tindih agama dan budaya akan terjadi terus menerus sebagai suatu proses yang akan memperkaya kehidupan dan membuatnya tidak gersang. Dari situlah sebenamya gagasan tentang pribumisasi Islam menjadi sangat urgen Hal demikian karena dalam pribumisasi Islam tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran normativ yang berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Bagi Abdurrahman Wahid, Arabisasi atau proses mengidentifikasi diri dengan budaya Timur Tengah adalah tercerabutnya kita dari akar budaya kita sendiri. Lebih dari itu, Arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan.
Pribumisasi bukan upaya menghindarkan timbulnya perlawanan dari kekuatan budaya-budaya setempat, akan tetapi justru agar budaya itu tidak hilang. Karena itu, inn' pribumisasi Islam adalah kebutuhan bukan untuk menghindarkan polarisasi antara agama dan budaya, sebab polarisasi demikian memang tidak terhindarkan. Pribumisasi Islam dengan demikian menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan melainkan berwujud dalam pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuk yang outentik dari agama, serta berusaha mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya. Dengan demikian tidak ada lagi pertentangan agama dan budaya. Dalam prakteknya, konsep pribumisasi Islam ini dalam semua bentuknya dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi keanekaragaman interpretasi dalam praktek kehidupan beragama disetiap wilayah yang berbeda-beda.
Lebih dari itu pribumisasi Islam juga bukanlah "Jawanisasi" atau sinkretisme, sebab pribumisasi Islam hanya mempetimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa mengubah hukum itu sendiri. Juga bukan upaya meninggalkan norma demi budaya, tetapi agar norma-norma itu menampung kebutuhan-kebutuban dari budaya dengan mempergunakan peluang yang disediakan oleh berbagai pemahaman. Sedang sinkretisme adalah usaha memadukan teologi atau sistem kepercayaan lama tentang sekian banyak hal yang diyakini sebagai kekuatan ghaib berikut dimensi eskatologisnya dengan Islam yang lalu membentuk panteisme.
Kedua, negosiasi. Ketika agama (Islam), dengan segenap perangkat doktrin yang dipunyai, berdialektika dengan berbagai budaya atau kepercayaan yang ada dalam sebuah masyarakat, maka disana ada kebutuhan untuk saling sama-sama mengubah tradisi yang dimiliki. Pada wilayah itulah sebetulnya berlangsung sebuah proses negosiasi yang kadangkala, pada batas-batas tertentu, berujung pada perabahanbentukmasing-masing tradisi.
Ketiga, Konflik. Pola terakhir dalam dialektika hubungan agama dan budaya lokal adalah mengambil bentuk konflik. Pola ini mengandaikan adanya sikap yang saling bertahan antara agama dan budaya dalam pergumulan antara kaduanya. Hal ini akan terwujud dari pola yang relative "menyimpang" yang dilakukan satu diantara keduanya.
Daftar Kepercayaan Asli Nusantara (kepercayaan)
1)      Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten)
2)      Agama Jawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat)
3)      Buhun (Jawa Barat)ss
4)      Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur)
5)      Parmalim (Sumatera Utara)
6)      Kaharingan (Kalimantan)
7)      Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)
8)      Tolottang (Sulawesi Selatan)
9)      Wetu telu (Lombok)
10)  Naurus (pulau Seram, Maluku)
11)  Aliran Mulajadi Nabolon
12)  Marapu (Sumba)
13)  Purwaduksina
14)  Budi Luhur
15)  Pahkampetan
16)  Bolim
17)  Basora
18)  Samawi
19)  Sirnagalih[2]
Kepercayaan/ Agama Islam Jawa
Menurut Koentjaraningrat, agama Islam Jawa yang terdapat dalam masyarakat Muslim Jawa mengandaikan adanya suatu golongan masyarakat yang taat kepada syariat, tetapi padasisi lainjugabersikap sinkretis, yang menyatukanunsur-unsurpra-Hindu, Hindu dan Islam. Lebih dari itu, dalam agama Islam Jawa biasanya orang bersikap tidak serius. Mereka sebagian besar tidak menjalankan rukun Islam, dan kadang tidak terlalu memperdulikan larangan-larangan yang digariskan. Hal ini wajar karena masyarakat Jawa memang masyarakat yang bertuhan. Sebelum agama-agama besar datang ke Indonesia, khususnya Jawa, mereka sudah mempunyai adanya Tuhan yang melindungi dan mengayomi mereka. Dan keberagamaan tersebut terus berlangsung dan semakin berkualitas dengan masuknya agama-agama besar.
Ada yang perlu dicatat, bahwa sebelum kedatangan Islam di Jawa, agama Hindu. Budha, dan juga kepercayaan yang berdasarkan animisme dan dinamisme telah berurat-akar dikalangan masyarakat Jawa. Karena itu dengan kedatangan Islam terjadi pergumulan antara Islam di satu pihak, dengan kepercayaan-kepercayaan yang ada sebelumnya di pihak lain. Akibatnya, muncullah kemudian dua kelompok dalam Islam. Pertama, mereka yang menerima Islam secara total tanpa mengingat kepercayaan-kepercayaan yang lama. Dan kedua, mereka yang menerima Islam, tetapi belum dapat melupakan ajaran-ajaran lama. Oleh karena itu mereka mencampur adukkan antara kebudayaan dan ajaran-ajaran Islam dengan kepercayaan-kepercayaan lama.
 Sunda Wiwitan
Sunda Wiwitan adalah agama masyarakat Baduy yang menghormati roh karuhun, nenek moyang (Permana, 2006: 37). Wiwitan berarti jati, asal, pokok, pemula, pertama. Sunda Wiwitan dalam Carita Parahiyangan disebut kepercayaan Jati   Sunda Naseni,   seoran kokolot   Kampung   Cikeusik menjelaska bahwa kepercayaan animisme masyarakat Baduy telah dimasuki unsur-unsur agama Hindu dan agama Islam”. Pada tahun 1907, menurut laporan Controller Afdeeling, di wilayah Lebak terdapat komunitas masyarakat beragama Hindu sebanyak 40 keluarga (Ekadjati, 1995:72). Sedangkan,  Islam pertama dikenal  oleh masyarakat Baduy di Kampung Cicakal Girang sejak kurang lebih 300 tahun silam. Kira-kira tahun 1680-an Islam dianut oleh masyarakat Baduy di Kampung Cikakal Girang.
Islam ala Baduy diucapkan dengan syahadat dan diamalkan dengan tapa untuk menjaga dan melestarikan alam warisan karuhun, nenek moyang. Tapa Baduy adalah bekerja di ladang dengan menanam padi sebagai amalan ajaran agama, mengawinkan dewi padi dengan bumi. Tindakan masyarakat Baduy itu berpedoman kepada pikukuh, aturan adat, dengan mematuhi buyut, tabu. Ajaran agama, tapa, pikukuh dan buyut telah mengkonstruksi pribadi-pribadi Baduy yang sederhana dalam menjaga alam lindung Kanekes. Sehingga, kesejahteraan dan kedamaian dapat dirasakan oleh umat manusia.
B.      Tarik Ulur (keuntungan dan kerugian ) dengan Kepercayaan Lokal
Dalam setiap hal pasti ada konsekuensi dalam melakukan, baik itu positif (membangun) ataupun negatif. 
Keuntungannya yaitu; dalam penyebarannya lebih cepat karena masuk melalui budaya ataupun kepercayaan yang sudah ada sehingga kepercayaan yang sudah ada tidak sepenuhnya dihapuskan namun diperindah dengan nilai-nilai Islam.
Sedangkan kerugian (dampak negatif) dengan adanya perjumpaan kepercayaan lokal dan Islam yaitu:
·         Terjadi campur-aduk di dalam ritual keagamaan
·         Tidak sepenuhnya bisa/ sulit memulai mendalami Islam secara murni
·         Masih percaya dengan mitos ritual kepercayaan terdahulu sehingga membuat masyarakat kurang berkembang karena terkadang ia membatasi diri yang pada dasarnya agama tidak membatasi sehingga  menjadikan pemeluk Islam stagnan pada aturan itu
·         Lemah dalam politik, ekonomi dan lainnya karena terkadang antara kepercayaan terdahulu dan Islam yang dianutnya mengajarkan hal yang berbeda. Seperti dalam kepercayaan sunda wiwitan mengajarkan kesederhanaan. Sederhana dalam segala aspeknya (tekstual) sedangkan Islam mengajarkan untuk sederhana namun dengan konteks porsi tersendiri, Islam memerintah untuk selalu giat berusaha, bekerja seakan-akan hidup selamanya dan beribadah seakan-akan mati besok. Jadi sederhana itupun memiliki arti yang berbeda dengan sunda wiwitan.
Persamaan dalam hal akidah dengan kepercayaan lokal;
·         Dalam kepercayaan lokal atau Islam tujuan beragama adalah penyembahan dan pengesaan terhadap tuhan
·         Harapannya adalah perdamaian dan keamanan
C.      Aliran Kepercayaan Sebagai Kompromi; Munculnya Teologi Liberal
Islam dan Indonesia merupakan mewakili berbagai perspektif yang cukup kompleks yang terkadang membentur satu sama lain. Sebagaimana dipahami, Islam merupakan agama samawi yang diturunkan di tanah arab dan disebarkan ke Indonesia melalui tangan-tangan pedagang India, serta pendakwah dari Arab, Persia, India maupun China.  Sementara Indonesia merupakan Negara bangsa yang berdiri di atas bekas wilayah Hindia Belanda dan merupakan untaian keragaman yang kompleks dalam suku, etnis dan bahasa. [3] Namun di tengah segala perbedaan dan keragaman multi perspektif, terdapat irisan yang menyatukan bahwa mayoritas penduduk yang mendiami Indonesia adalah muslim. Mereka sepakat untuk saling menghargai, dengan cara keber-Islaman yang beraneka ragam namun tetap dalam koridor syariat ataupun berbeda dari syara’ namun tetap dilestarikan seperti sunda wiwitan dan lainnya. Kompromi dalam satu naungan NKRI yang menghargai segala bentuk perbedaan.
Sejarah Masuknya Pemikiran Liberal di Indonesia
Sekularisme sebagai akar liberalisme masuk secara paksa ke Indonesia melalui proses penjajahan, khususnya oleh pemerintah Hindia Belanda. Prinsip negara sekular telah termaktub dalam Undang-Undang Dasar Belanda tahun 1855 ayat 119 yang menyatakan bahwa pemerintah bersikap netral terhadap agama, artinya tidak memihak salah satu agama atau mencampuri urusan agama. (Suminto, 1986:27).
Prinsip sekular dapat ditelusuri pula dari rekomendasi Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial untuk melakukan Islam Politiek, yaitu kebijakan pemerintah kolonial dalam menangani masalah Islam di Indonesia. Kebijakan ini menindas Islam sebagai ekspresi politik. Inti Islam Politiek adalah : (1) dalam bidang ibadah murni, pemerintah hendaknya memberi kebebasan, sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda; (2) dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah hendaknya memanfaatkan adat kebiasaan masyarakat agar rakyat mendekati Belanda; (3) dalam bidang politik atau kenegaraan, pemerintah harus mencegah setiap upaya yang akan membawa rakyat pada fanatisme dan ide   Pan Islam. (Suminto, 1986:12).
Politik Etis yang dijalankan penjajah Belanda di awal abad XX semakin menancapkan liberalisme di Indonesia. Salah satu bentuk kebijakan itu disebut unifikasi, yaitu upaya mengikat negeri jajahan dengan penjajahnya dengan menyampaikan kebudayaan Barat kepada orang Indonesia. Pendidikan, sebagaimana disarankan Snouck Hurgronje, menjadi cara manjur dalam proses unifikasi agar orang Indonesia dan penjajah mempunyai kesamaan persepsi dalam aspek sosial dan politik, meski pun ada perbedaan agama. (Noer, 1991:183).
Proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 seharusnya menjadi momentum untuk menghapus penjajahan secara total, termasuk mencabut pemikiran sekular-liberal yang ditanamkan penjajah. Tapi sayang sekali ini tidak terjadi. Revolusi kemerdekaan Indonesia hanyalah mengganti rejim penguasa, bukan mengganti sistem atau ideologi penjajah. Pemerintahan memang berganti, tapi ideologi tetap sekular. Revolusi ini tak ubahnya seperti Revolusi Amerika tahun 1776, ketika Amerika memproklamirkan kemerdekaannya dari kolonialisasi Inggris. Amerika yang semula dijajah lantas merdeka secara politik dari Inggris, meski sesungguhnya Amerika dan Inggris sama-sama sekular.
Ketersesatan sejarah Indonesia itu terjadi karena saat menjelang proklamasi (seperti dalam sidang BPUPKI), kelompok sekular dengan tokohnya Soekarno, Hatta, Ahmad Soebarjo, dan M. Yamin telah memenangkan kompetisi politik melawan kelompok Islam dengan tokohnya Abdul Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, Abdul Wahid Hasyim, dan Abikoesno Tjokrosoejoso[4] Jadilah Indonesia sebagai negara sekular.
Karena sudah sekular, dapat dimengerti mengapa berbagai bentuk pemikiran liberal sangat potensial untuk dapat tumbuh subur di Indonesia, baik liberalisme di bidang politik, ekonomi, atau pun agama. Dalam bidang ekonomi, liberalisme ini mewujud dalam bentuk sistem kapitalisme (economic liberalism), yaitu sebuah organisasi ekonomi yang bercirikan adanya kepemilikan pribadi (private ownership), perekonomian pasar (market economy), persaingan (competition), dan motif mencari untung (profit). (Ebenstein & Fogelman, 1994:148). Dalam bidang politik, liberalisme ini nampak dalam sistem demokrasi liberal yang meniscayakan pemisahan agama dari negara sebagai titik tolak pandangannya dan selalu mengagungkan kebebasan individu. (Audi, 2002:47). Dalam bidang agama, liberalisme mewujud dalam modernisme (paham pembaruan), yaitu pandangan bahwa ajaran agama harus ditundukkan di bawah nilai-nilai peradaban Barat.[5]
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Komaruddin dan Ahmad Gaus. Menjadi Indonesia. Jakarta: Mizan. Cet. I.  2006.
Nurdin, Ali dan Abdul Aziz Hasibuan. Islam dan Prospek Keberagamaan di Indonesia. Jakarta: UIN Jakarta Press. Cet. I. 2006
Anshari, Endang Saifuddin. Piagam Jakarta 22 Juni 1945 Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949). Jakarta : Gema Insani Press. 1997
Said, Busthami Muhammad. Gerakan Pembatuan Agama (Mafhum Tajdid Al-Din). Penerjemah Ibnu Marjan & Ibadurrahman. Bekasi : PT Wacaralazuardi Amanah. 1995







[1]Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus. Menjadi Indonesia. Jakarta: Mizan. Cet. I.  2006. h.103
[2]Wikipedia
[3]Ali Nurdin dan Abdul Aziz Hasibuan. Islam dan Prospek Keberagamaan di Indonesia. Jakarta: UIN Jakarta Press. Cet. I. 2006.h. 19
[4]Anshari, Endang Saifuddin. Piagam Jakarta 22 Juni 1945 Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949). (Jakarta : Gema Insani Press). 1997
[5] Said, Busthami Muhammad. Gerakan Pembatuan Agama (Mafhum Tajdid Al-Din). Penerjemah Ibnu Marjan & Ibadurrahman,.(Bekasi : PT Wacaralazuardi Amanah). 1995